Kamis, 27 Februari 2014

Papaaa,, Pi Bobo Sudaaahh...

Hmmmm,,, lama banget ga nulis dimari. Emang ga punya waktu sih akhir2 ini #EdisiNgeles.

Oke, cukup intro nya.. *Lah, intro yg mana??

Kejadiannya sih sebenernya beberapa hari yang lalu. Kondisi badan lagi capek2nya, biasalah Jakarta, apalagi kalo ga masalah macet yg disebabkan ujan seiprit hingga mengakibatkan banjir, eh genangan deng kata gubernur edisi sebelum ini.
So, sampe rumah langsung makan, mandi, sholat isya, trus maen bentar ama si krucil Leonardo.

My Krucil @bengkel

 Jam udah sekitar setengah 10 malem, Leon masih semangat2nya maen. Ya iyalah, dia baru bangun ampir magrib. Cuma berhubung mata papanya udah tinggal 5 watt, eh emang sipit sih matanya, maka saya kemudian memutuskan masuk kamar untuk tidur. 

Sekitar 5 menit berselang.
BRAAAKKK!!!! (Suara pintu kamar dibanting)

"Papaaaa,, keluar sudaahhh" ucap Leon dengan logat Papua yg kental. Maklum, sehari2 tinggal ama Oma nya yang selalu menggunakan logat Papua

"Papa ngantuk sayang, papa capek" ujarku

"Papaaaa,, keluar sudaahh"

"Papa dah ngantuk banget sayaaang" kataku lagi

"Papa ngantuk kah?"

"Iya sayang papa ngantuk, papa bobo dulu ya.."

"Papaa,, pi bobo sudaah"

"Iyaa naaak, ini papa mau bobo.."

BRAAAKK!!! (Suara pintu dibanting)

Aaahh,, akhirnya bisa tidur dengan tenang batinku.

BRAAAKKK!!! (Suara pintu dibanting lagi)

"Papaaaa,,,, pi bobo sudaaaahh"

BRAAAKKK!!! (Suara pintu dibanting untuk yg ke empat kalinya, dan alhamdulillah yg terakhir kalinya dibanting pada malam itu)

Dan akhirnya kututup malam itu dengan doa "Ya Allaahh,,, selamatkan aku malam ini..."

Jumat, 14 Desember 2012

Pentingnya Komunikasi di dalam Keluarga

Ada suatu cerita yang bisa dijadikan inspirasi.
Disuatu tempat, hidup sepasang suami istri yang miskin. Harta yang paling berharga yang mereka miliki adalah sepasang giwang milik istrinya yang merupakan mahar pernikahan mereka dan sebuah sepeda tua milik suaminya untuk bekerja sehari-hari. 

Pada suatu ketika, sebelah dari giwang tersebut hilang. Hingga sang istri pun tidak menggunakannya lagi dan menyimpan yang sebelahnya dilemari.
Beberapa hari kemudian, ban sepeda milik suaminya mengalami kerusakan, sehingga harus diganti baru.

Mengetahui begitu, timbul inisiatif sang istri untuk menjual giwang sebelah yang disimpan dilemarinya dan membelikan ban baru bagi sepeda suaminya. Dalam pikiran istrinya, tidak apa2 aku tidak memakai giwang, toh juga memang tak bisa kupakai, karena hanya tinggal sebelah.

Namun pada saat yang sama, timbul inisiatif sang suami untuk menjual sepedanya, dan membelikan satu buah giwang untuk melengkapi giwang istrinya yang tinggal sebelah. Dalam pikiran suaminya, lebih baik aku bekerja dengan berjalan kaki, daripada istriku tidak menggunakan maharnya lagi.

Tibalah disuatu hari, dimana sang istri menyerahkan sebuah ban baru untuk sepeda suaminya dan sang suami menyerahkan sebuah giwang untuk melengkapi giwang istrinya yang hilang. Setelah mereka saling memberitahukan bagaimana mereka masing2 bisa membeli barang tersebut, maka mereka pun menyesal tidak membicarakannya terlebih dahulu.

Selasa, 11 Desember 2012

Cara Kebanyakan Manusia Menilai Manusia Lain

Dah lama juga ternyata ga nulis dimari. Jadi kangen ama blogku. 

Kali ini mau ngebahas masalah yang sering terjadi antara kita sesama manusia. Sebenernya tulisan ini berdasarkan ceramah beberapa hari yg lalu oleh Ustadz Arifin Ilham di TVRI ( TV andalan di taon 80an :D ).

Jadi ada sebuah cerita, dimana seorang Bapak melakukan riset kecil2an bersama anaknya. Yaitu riset bagaimana reaksi orang2 sekitar terhadap kita, apakah selalu menilai yang baik ataukah menilai buruknya seseorang.


Bapak dan Anak ( It's me and Leon :D )

Pada suatu hari, si Bapak mengajak anaknya keluar rumah dengan menggunakan keledai yang kecil. Kemudian Bapak bertanya, dengan keledai ini, siapakah yang berhak menaikinya. Kemudian Anaknya menjawab, Bapaklah yang harus menaikinya, karena saya harus berbakti kepada Bapak, maka saya yang akan menuntun keledainya.
Kemudian mereka keluar rumah, lalu orang2 sekitar pun bereaksi dan berkata "Sungguh itu orang tua tidak tau diri, masa anaknya yang masih kecil disuruh nuntun keledai, sedangkan dia enak2an duduk diatasnya"

Keledai


Keesokannya mereka berganti posisi, anak diatas, Bapak yang menuntun. Begitu keluar, mereka pun kembali dicerca "Sungguh anak yang durhaka, masa anaknya enak2an duduk diatas, sedangkan Bapaknya menuntun dibawah"

Esoknya mereka ganti lagi, kali ini dua-duanya naik keledai, namun mereka pun kembali dicerca "Sungguh mereka keluarga yang tidak punya hati, masa keledai sekecil itu dinaiki berdua"

Esoknya lagi Bapaknya pun bilang bahwa ini adalah hari terakhir, dan mereka pun keluar sambil menggendong keledai, maka orang2 disekitar mereka pun tetap mencerca "Sungguh gila keluarga itu, masa keledai yang naik mereka, bukan mereka yang naik keledai"

Ghibah/Gossip

Kemudian sang Bapak pun menyimpulkan kepada anaknya "Anakku, kau sudah lihat semua, bagaimana kebanyakan manusia hanya melihat sisi jelek dari orang lain. Kita tidak boleh seperti itu, bisa jadi yang orang lain lakukan tersebut memang merupakan hal terbaik yang dia lakukan. Selain itu, kita harus tetap istiqomah (konsisten) atas apa yang kita lakukan, selama kita merasa itu adalah benar. Kita tidak perlu memusingkan apa yang dikatakan orang lain terhadap kita. karena bila kita mengikuti perkataan orang lain maka tidak akan ada habisnya"