Jumat, 14 Desember 2012

Pentingnya Komunikasi di dalam Keluarga

Ada suatu cerita yang bisa dijadikan inspirasi.
Disuatu tempat, hidup sepasang suami istri yang miskin. Harta yang paling berharga yang mereka miliki adalah sepasang giwang milik istrinya yang merupakan mahar pernikahan mereka dan sebuah sepeda tua milik suaminya untuk bekerja sehari-hari. 

Pada suatu ketika, sebelah dari giwang tersebut hilang. Hingga sang istri pun tidak menggunakannya lagi dan menyimpan yang sebelahnya dilemari.
Beberapa hari kemudian, ban sepeda milik suaminya mengalami kerusakan, sehingga harus diganti baru.

Mengetahui begitu, timbul inisiatif sang istri untuk menjual giwang sebelah yang disimpan dilemarinya dan membelikan ban baru bagi sepeda suaminya. Dalam pikiran istrinya, tidak apa2 aku tidak memakai giwang, toh juga memang tak bisa kupakai, karena hanya tinggal sebelah.

Namun pada saat yang sama, timbul inisiatif sang suami untuk menjual sepedanya, dan membelikan satu buah giwang untuk melengkapi giwang istrinya yang tinggal sebelah. Dalam pikiran suaminya, lebih baik aku bekerja dengan berjalan kaki, daripada istriku tidak menggunakan maharnya lagi.

Tibalah disuatu hari, dimana sang istri menyerahkan sebuah ban baru untuk sepeda suaminya dan sang suami menyerahkan sebuah giwang untuk melengkapi giwang istrinya yang hilang. Setelah mereka saling memberitahukan bagaimana mereka masing2 bisa membeli barang tersebut, maka mereka pun menyesal tidak membicarakannya terlebih dahulu.

Selasa, 11 Desember 2012

Cara Kebanyakan Manusia Menilai Manusia Lain

Dah lama juga ternyata ga nulis dimari. Jadi kangen ama blogku. 

Kali ini mau ngebahas masalah yang sering terjadi antara kita sesama manusia. Sebenernya tulisan ini berdasarkan ceramah beberapa hari yg lalu oleh Ustadz Arifin Ilham di TVRI ( TV andalan di taon 80an :D ).

Jadi ada sebuah cerita, dimana seorang Bapak melakukan riset kecil2an bersama anaknya. Yaitu riset bagaimana reaksi orang2 sekitar terhadap kita, apakah selalu menilai yang baik ataukah menilai buruknya seseorang.


Bapak dan Anak ( It's me and Leon :D )

Pada suatu hari, si Bapak mengajak anaknya keluar rumah dengan menggunakan keledai yang kecil. Kemudian Bapak bertanya, dengan keledai ini, siapakah yang berhak menaikinya. Kemudian Anaknya menjawab, Bapaklah yang harus menaikinya, karena saya harus berbakti kepada Bapak, maka saya yang akan menuntun keledainya.
Kemudian mereka keluar rumah, lalu orang2 sekitar pun bereaksi dan berkata "Sungguh itu orang tua tidak tau diri, masa anaknya yang masih kecil disuruh nuntun keledai, sedangkan dia enak2an duduk diatasnya"

Keledai


Keesokannya mereka berganti posisi, anak diatas, Bapak yang menuntun. Begitu keluar, mereka pun kembali dicerca "Sungguh anak yang durhaka, masa anaknya enak2an duduk diatas, sedangkan Bapaknya menuntun dibawah"

Esoknya mereka ganti lagi, kali ini dua-duanya naik keledai, namun mereka pun kembali dicerca "Sungguh mereka keluarga yang tidak punya hati, masa keledai sekecil itu dinaiki berdua"

Esoknya lagi Bapaknya pun bilang bahwa ini adalah hari terakhir, dan mereka pun keluar sambil menggendong keledai, maka orang2 disekitar mereka pun tetap mencerca "Sungguh gila keluarga itu, masa keledai yang naik mereka, bukan mereka yang naik keledai"

Ghibah/Gossip

Kemudian sang Bapak pun menyimpulkan kepada anaknya "Anakku, kau sudah lihat semua, bagaimana kebanyakan manusia hanya melihat sisi jelek dari orang lain. Kita tidak boleh seperti itu, bisa jadi yang orang lain lakukan tersebut memang merupakan hal terbaik yang dia lakukan. Selain itu, kita harus tetap istiqomah (konsisten) atas apa yang kita lakukan, selama kita merasa itu adalah benar. Kita tidak perlu memusingkan apa yang dikatakan orang lain terhadap kita. karena bila kita mengikuti perkataan orang lain maka tidak akan ada habisnya"


Kamis, 24 November 2011

Chairul Tanjung - Dokter Gigi yang Gak Pernah Praktek

Mendengar nama Chairul Tanjung, bayanganku langsung terkenang dengan Alm. Papa, Azwar Tanjung. Ternyata ada salah satu orang terkaya di negeri ini yang bermarga sama dengan keluargaku.
Hmmmm.. cukup bangga dan sangat memberi motivasi kepadaku, bahwa kesuksesan tidak hanya dapat diraih oleh etnis tertentu saja, tapi bisa  ke semua orang. Semua itu tergantung dari kemauan seseorang untuk bekerja keras, tidak gampang menyerah dan selalu mempelajari kesalahan agar selalu menjadi lebih baik.

Kisah perjalanan Chairul Tanjung menuju kesuksesan:


Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung (CT), pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, termyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.

Saat kuliah di Fakultas kedokteran gigi Universitas Indonesia, pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen yang sempit.

Namun ternyata, kesulitan ini justru membuat CT membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan, "Saya bercita-cita menjadi orang besar." Maka lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil2an. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu dan aneka barang lain dikampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasih membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu pun bangkrut.

Namun rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya. Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang kontraktor. Meski kurang berhasil, ia merasa mendapat banyak pelajaran dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia memberanikan diri mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi bersama 2 rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160ribu pasang dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri genteng, sandal dan properti. Namun ditengah kesuksesanya itu, rupanya mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka ia pun memilih menjalankan sendiri usahanya.

Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti dan multimedia. Melalu tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontroversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkan banyak hal. Ia justru mengangkat Bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset diatas Rp 1 Triliun saat ini.

Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall, dan salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.

Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai "The Risining Star". Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta Dollar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah dulu.

Hal itulah yang barangkali membuat CT selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan" ungkapnya.